Sabtu, 06 Januari 2018

Januari 06, 2018

4 Jenis Karir di Media Sosial yang Cocok Banget Buat Millenials!

Sekarang ini, siapa sih millenials yang enggak main-main media sosial? Hampir semua milenials menggunakan media sosial setiap hari, ya nggak? Hal ini membuat banyak perusahaan dan brand meng-consider untuk memiliki aset media sosial sebagai sarana untuk menyasar generasi yang juga disebut kids jaman now.

Nah, biasanya yang ngerti banget soal kids jaman now adalah mereka sendiri. Jadi, karir-karir ini hot banget untuk kalian isi karena kalian akan lebih mudah mempelajarinya dibanding mereka generasi X atau baby boomers. Buktinya, akhir-akhir ini kalau membuka website atau sosmed lowongan kerja, banyak sekali lowongan untuk posisi di media sosial, karena ya jelas, posisi ini sedang dibutuhkan dan orang yang jago di bidang ini nggak banyak. Rata-rata sih namanya Social Media Admin atau Social Media Specialist. Ada juga Social Media Strategist atau yang baru banget adalah Social Media Analyst. Itu kerjanya ngapain ya? Cuma main-main sosmed doang kan? Kalau itumah semua anak milenials juga bisa.

Eits, tapi nggak segampang itu lho kerja sebagai -oh-so-called- Social Media Specialist. Posisi ini belum memiliki jurusan khusus yang diajarkan di kampus, membuatnya memang bisa diisi oleh siapa saja yang ngerti soal media sosial. Namun, dunia media sosial membutuhkan skill-skill khusus yang nggak semua orang bisa memenuhinya, apalagi untuk posisi yang lebih tinggi seperti Social Media Strategist dan Social Media Analyst. Saat masih menjadi Social Media Strategist, aku kerapkali dibilangin orang “Enak tuh kerjaannya Bella sama Pe (my bestfriend), tiap hari cuman mainan Facebook sama Twitter.” (jaman itu twitter masih jaya ya). Kami berdua saat itu hanya mengutuk di dalam hati sembari mengoleskan concealer ke mata panda kami yang makin hitam karena sering lembur bikin strategi sosmed.

Ekpektasi Berkarir di Media Sosial

Emang gimana sih kerjaan posisi-posisi Social Media? Makin ke sini, pekerjaan untuk social media makin bermacam-macam karena ilmu serta jobdecs-nya makin berkembang. So, aku akan coba jelaskan satu-persatu posisi yang general ada sekarang ini.

Social Media Strategist

Posisi ini acap kali ditemukan di Digital Advertising Agency atau di Brand yang udah Digital-Minded. Namanya terdengar sangar dan betul-betul bikin bangga menyandang nama ini, plus bikin pusing kalau menjawab pertanyaan “kerja jadi apa?” di pertemuan saudara atau keluarga besar. Tapi pekerjaannya memang sangar kok. Kalau dilihat dari namanya, Social Media Strategist artinya adalah orang yang jago bikin strategi di Media Sosial. Wuih, kayak Sun Tzu si jagoan strategi perangnya China ya? Bisa jadi :)

Nah, tugas-tugas seorang social media strategist ini antara lain :

  • Membuat dan bertanggung jawab dalam perencanaan konten dan media sosial. Dalam hal ini, yang bersangkutan harus pintar riset (kepo), menganalisa data serta membuat rencana berdasarkan data untuk mencapai tujuan pemasaran di media sosial. Harus banget mencapai tujuan? Harus! Karenanya, seorang Social Media Strategist nggak hanya kudu pinter riset, tapi memahami betul tentang marketing, komunikasi, dan mengenai digital media. Terutama bagaimana habit orang-orang sekarang dalam bermedia. 
  • Membuat strategi konten untuk mencapai tujuan komunikasi. Selain strategi media sosial, Social Media Strategist juga bertanggung jawab untuk membuat strategi konten yang baik dan nanti akan dijalankan oleh timnya.
  • Mengawal tim untuk melakukan eksekusi sesuai rencana yang telah dibuat. Dalam hal ini, Social Media Strategist bukanlah orang yang membuat konten, melainkan orang yang focus dalam membuat rencana dan menggali informasi. Tapi bisa juga dia yang membuat kontennya. Namun dalam beberapa hal, Social Media Strategist tetap bertugas sebagai leader projectnya karena dia yang paling tahu soal informasi produk dan rencananya di media sosial.
  • Melakukan monitor atas segala aktivitas media sosial baik milik brand maupun kompetitor. Harus tahu, bagaimana feedback audience terhadap konten serta apa yang dilakukan kompetitor di media sosialnya. Apakah strategi dan kontennya berhasil menggaet audience? Jika tidak, alasannya apa? Sekali lagi, kepo adalah senjata utama.
  • Membuat report dari aktivitas yang dilakukan dan membuat strategi improvement. Praktis, seorang Social Media Strategist kudu tahu caranya membaca data dan statistik, serta menerjemahkannya. Tak sampai situ, dari data tersebut, dia harus mampu membuat kesimpulan dan perbaikan yang perlu dilakukan.
Ternyata banyak ya tugas utamanya? Itu belum detail lho, dan belum masuk ke pembahasan brand apa yang dipegang. Karena, Social Media Strategist harus menguasai informasi produk yang jadi tanggung jawabnya. Misal soal motor, dia harus tahu banyak soal otomotif agar bisa membuat strategi yang pas untuk produk motor tersebut. Wah, wah, ternyata bukan sekedar “mainan facebook dan twitter” aja kan?


Social Media Officer

Nah kalau udah ada yang bikin strategi, siapa yang bikin konten dan ngepost kontennya? Siapa lagi kalau bukan Social Media Officer. Biasanya Social Media Officer ini bekerja sama dengan Social Media Strategist. Posisi mereka juga nggak kalah penting karena strategi nggak akan jalan tanpa mereka. Mereka bisa dibilang sebagai garda depan sebuah brand karena merekalah yang langsung berinteraksi dengan customer brand. Maka, posisi ini juga merupakan sebuah posisi yang membanggakan walaupun sering dipanggil “Min,” sama audiencenya.

Tugas utamanya antara lain :
  • Membuat konten turunan dari strategi yang telah dibuat oleh Social Media Strategist. Basicnya adalah content writer, tapi beda lho nulis artikel untuk blog dengan social media. Di social media (apalagi di twitter), Social Media Officer kudu memperhatikan format konten serta seberapa banyak karakter yang ditulis. Kalau kepanjangan bosen, kependekan bikin infonya kurang diterima. Kalau ada yang baru banget jadi Social Media Officer, biasanya punya permasalahan di sini, format penulisan mereka kurang “sosmed”. Kadang ada yang bikin satu post isinya banyak banget kayak mau bikin konten satu minggu (pengalaman nyata).
  • Melakukan posting konten. Nah, ini basic sih ya. Tapi masih banyak lho yang nggak tahu caranya posting konten atau melakukan penjadwalan. Jadi, jangan meremehkan tugas posting konten yha! Kalau nggak tahu caranya, bisa-bisa salah posting konten jadi jam 1 malam yang bikin dibully netijen Indonsia dan dimarahin klien serta bos!
  • Menjawab pertanyaan dan feedback yang didapatkan dari audience. Ini yang sedikit menguras tenaga, apalagi kalau sosmednya rame. Dengan mudahnya digital, setiap orang inginnya dibalas cepet maksimal 5 menit. Maka Social Media Officer adalah orang tersibuk dalam mengecek notifikasi yang masuk untuk membalas pesan-pesan dari audience tersayang! Mereka adalah orang tersabar yang dengan ramah tetap menjawab pertanyaan tentang harga yang jelas-jelas gede banget tertulis di visualnya (curhatan seorang teman SMO).
As for starter, kalau ingin terjun di karir media sosial, mungkin akan lebih mudah jika kamu mengawalinya sebagai Social Media Officer lalu belajar untuk naik sebagai Social Media Strategist.

Selain dua posisi diatas, ada juga sebutan Social Media Specialist yang merupakan gabungan Social Media Strategist dan Social Media Officer. Lho kok kerjaan dua orang dikerjain satu orang? Banyak banget dong? Engga juga sih, tergantung kebutuhan brand-nya. Kalau nggak terlalu banyak, satu orang yang melakukan management social media sudah cukup. Tapi kalau ingin maksimal karena apa yang di-manage banyak, sebaiknya dipisah jadi Social Media Strategist dan Social Media Officer.


Social Media Analyst

Akhir-akhir ini aku sering melihat lowongan sebagai Social Media Analyst bersliweran di website lowongan kerja. Tahun lalu, posisi ini masih jarang ada yang menggeluti. Ternyata makin banyak dan makin ramenya social media digunakan oleh masyarakat dan perusahaan, diperlukan orang yang bisa menganalisa data di media sosial. Apalagi ditambah makin kompleksnya data yang berkembang, misal Instagram yang sekarang sudah ada statistiknya.

Apa saja sih tugas-tugasnya?
  • Melakukan monitoring dan pengambilan data di media sosial. Data tersebut antara lain reach, impression, engagement, follower growth, unfollower, audience demography dan banyak lagi. Dia juga harus tahu bagaimana cara mendapatkan datanya, apakah itu menggunakan tools di media sosial atau tools-tools tambahan lainnya.
  • Melakukan analisa terhadap data yang didapatkan. Dari semua parameter data yang ada, Social Media Analyst harus bisa menganalisa dan menyimpulkan sehingga bisa digunakan untuk membuat strategi selanjutnya.
  • Membuat report berdasarkan data tersebut. Report ini nggak sekedar nemplokin data ke laporan, tapi kudu bisa terbahasakan dengan baik.
Sekilas gampang ya kelihatannya, Cuma monitoring, analisa terus bikin report. Tapi nggak segampang itu, guys. Kalau kalian nggak suka lihat data dan nggak teliti, pekerjaan ini bisa jadi berat bagi kalian. Belum lagi kalau ketemu data yang banyak dan harus diolah. Perlu kesabaran dan ketelitian tingkat tinggi untuk bisa menguasai bidang analisa media sosial. Tertantang?


Social Media Community Manager

Salah satu pekerjaan penting dalam melakukan manage media sosial adalah memahami dan berinteraksi dengan audience. Saat ini, perilaku konsumen bisa menjadi sangat segmented dan tidak mudah meng-engage audience. Nah, cara untuk meng-engage audience adalah mendekati komunitas atau membentuk komunitas. Maka dari itu, perusahaan/brand terkadang membutuhkan orang yang jago dalam me-manage komunitas di media sosial. Akhirnya posisi Social Media Community Manager ini lahir.

Tugas-tugasnya antara lain :
  • Membuat komunitas di media sosial atau mendekati komunitas-komunitas di media sosial.
  • Menjalin relasi dengan anggota komunitas di media sosial.
  • Membuat aktivitas untuk komunitas di media sosial agar mereka engage dengan brandnya.
  • Memaintain komunikasi dan citra brand dengan anggota komunitas.
Sounds simple? Bagi yang memang suka foruming, ngobrol dan ketemu banyak orang, mungkin posisi ini cocok buatmu. Tantangannya adalah dengan membuat anggota komunitas mengikuti apa yang kamu lakukan. Kamu juga harus bisa jadi opinion leader dan influencer sesuai dengan tujuan brandnya.

ooo

Karir di dunia digital memang terus berkembang. Ada posisi-posisi yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan bakalan eksis. Tapi begitulah, dunia digital memang cepat sekali berubah. Kalau kita tidak meresponnya dengan cepat, kita akan ketinggalan.

So, gimana? Pengen berkarir di bidang Social Media? Atau malah sudah nyiapin CV untuk melamar posisi di atas? 

Thanks sudah mampir, semoga bermanfaat.

Selasa, 02 Januari 2018

Januari 02, 2018

Refleksi 2017 : Rebuild The Future

Mengawali 2017 kemarin dengan menulis refleksi, dan melanjutkan kebiasaan itu. Aku berharapnya apa yang aku tulis menginspirasi teman-teman dalam kehidupan dan tantangan masing-masing.
Memasuki 2017, aku merasa sedang dilanda yang namanya “quarter life crisis”. Di mana aku merasa stuck, bingung dan kehilangan jati diri. Akhir tahun 2016 adalah masa di mana aku menekan tombol RESET dan sepertinya 2017 adalah masa di mana aku berusaha membangun reruntuhan hidup kembali.




Get My Confidence Back!

Awal tahun 2017 aku jadi makhluk yang paling nggak PD sedunia. Oke, terdengar lebay, tapi rasanya benar-benar begitu. Aku takut ketemu orang yang belum kukenal, bahkan aku sampai takut keluar kamar kos untuk bertemu orang, even itu tetangga kos. Depresi dan anxious parah. Gejala ini berangsur mereda setelah aku mencoba untuk olahraga Yoga. Namun itu aja nggak cukup, aku masih belum pede dengan diriku sendiri dan rasanya nggak enak banget. Suatu hari aku diajak untuk jadi pembicara mengisi workshop di salah satu perguruan tinggi Yogyakarta. Ironis banget kan, lagi nggak pede sama sekali tapi kudu pede tampil jadi pembicara. Aku jadi merasa awful dan tertantang untuk memperbaiki ini, lalu langsung ikutan Public Speaking Intensive Class di SWARAGAMA Training Center. Di situ kelihatan banget aku nggak pede karena pas test ngomong di depan kelas, aku selalu melihat ke bawah. Benar-benar ngawur rasanya. Tapi, setelah beberapa pertemuan, aku menemukan kata-kata ajaib yang bikin rasa percaya diriku balik lagi seketika. Langsung ada perbedaan besar setelah aku ikutan public speaking class tersebut and yep, here I am, starting to trust myself more and get my confidence back again! 

Belajar mencintai diri sendiri

Yang itu nggak mudah. Musuh terbesar kita adalah diri sendiri, diri kita tahu kelemahan dan mimpi terbesar kita sehingga kita sangat rapuh dan mudah kalah olehnya. Dan di 2017 aku berusaha banget buat mencintai diri sendiri dengan beragam cara. Awalnya berat ternyata merubah mindset bahwa aku patut dicintai, karena selama ini aku mencari pengakuan orang lain tentang diriku sehingga lupa mengakui kekuatan diri sendiri. Aku konsultasi dengan banyak orang, berbagi cerita dengan teman-teman dekat yang ternyata sedang mengalami hal yang sama. Aku sering menghabiskan waktu untuk berkontemplasi dengan diri sendiri, apa kekurangan, apa yang bisa dipelajari dari kesalahan, melihat hal-hal yang mampu kucapai dan memberi reward kepada diri sendiri. Apalagi ketika aku menemukan buku bagus banget berjudul Berdamai dengan Diri Sendiri karya Muthia Sayekti. Buku ini benar-benar buku yang aku perlukan untuk semakin mencintai diri sendiri dan berdamai dengan konflik batin sehingga aku bisa berkarya lebih baik lagi.

Found Myself Again

Akhirnya, setelah berhasil mencintai diri sendiri, aku menemukan diriku lagi. I embrace my weirdness-es, my geekness and my own opinion because that’s made me who I am. Cat rambut pakai peekaboo style, diwarnain MERAH yang itu totally different. Ganti wardrobe, embrace my pinkish tone, sampai rasanya semua yang nempel warnanya pink! Ternyata, it's satisfying ketika aku mendengarkan diriku sendiri dan melakukan apa yang aku suka (selama ini aku cuma fokus membuat kebahagiaan untuk orang lain).

Move to SOLO dan RESIGN 2 Kali

Pulang ke Solo ini diawali dengan perasaan nggak ikhlas karena hidup di JOGJA benar-benar hidupku. Kotanya, orang-orangnya, cara berpikir orang-orangnya, rasanya soul-ku udah jogja banget. Tapi, demi mempersiapkan masa depan dan kebutuhan untuk lebih dekat dengan keluarga nggak bisa ditunda, akhirnya memutuskan untuk pulang ke Solo (dengan persiapan yang panjang). Ternyata mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion dan kapasitasku di Solo itu susah! Sehingga aku resign dua kali. Untuk seukuranku yang biasanya sabar dan setia, pindah kerjaan dua kali dalam waktu setahun itu cukup mencengangkan (LOL).

Getting Closer To Those People who Love Me

Selain lebih dekat dengan keluarga, tahun 2017 adalah tahun di mana aku lebih sibuk chatting dengan beragam orang. Aku re-connect dengan teman-teman lama, bertemu dengan banyak teman-teman baru yang sangat menginspirasi. Masing-masing orang yang aku temui memberi beragam pembelajaran yang berharga, terutama tentang kehidupan. Dan aku menghargai setiap koneksi yang terjalin dengan mereka. Rasanya fulfilling banget bisa bertemu dengan banyak orang hebat dan baik, thus grateful karena Allah mengirimkan orang-orang sebaik mereka untuk membantuku.

ooo

2017 memberi pelajaran berharga, tentang membangun kembali apa yang sudah rusak di tahun sebelumnya. Dan perjalanan ini masih panjang, masih banyak yang harus dibenahi dan dipelajari karena sesungguhnya hidup itu terus belajar. So, di tahun 2018 aku ingin :

1. Stay true to myself, love myself, selalu bersyukur dan berpikiran positif.
2. More sharing and connect to those beautiful soul. Setiap orang yang kutemui punya pembelajaran yang baik dan jiwa-jiwanya cantik. I want to see more in 2018.
3. Get more wisdom to level up in 2019. Semoga rencana menikah di 2019 dimudahkan oleh Allah.

Terima kasih sudah mampir, semoga 2018-mu diberikan berkah dan pengalaman baru yang bermanfaat untukmu!

About

authorHi There! Thanks for visiting my blog. You can call me bella.
Learn More →



Newsletter