Rabu, 04 Januari 2017

Januari 04, 2017

[Review] : Dorama - Tenno No Ryoriban

Menyempatkan diri untuk menonton J-Drama, yang ternyata setelah selesai nonton, ini drama asik banget ceritanya! Aku suka nonton drama sekedar untuk hiburan, tapi aku paling suka nonton drama yang memiliki pesan moral yang dapat diambil. Drama Tenno No Ryoriban (The Emperor's Cook) ini salah satunya! Yah, walopun drama lama sih -_-




Hmm, enaknya nggak spoiler ya, tapi aku akan berikan alasan kenapa kamu, apalagi yang sedang bingung menggapai mimpimu, harus nonton Dorama (sebutan drama di jepang) ini!

Mencoba apapun sebelum akhirnya menemukan apa passionmu.
Aku pernah berada dalam kondisi "Sebenarnya passionku apa ya?", nah, Tokuzo ini juga mengalami hal yang sama. Di awal dorama, kamu akan diceritakan betapa tersesatnya dia sebelum akhirnya menemukan passion sesungguhnya. Dan ketika dia berhasil menemukannya, langkah selanjutnya yang harus dia ambil adalah memulai.

Tapi, ternyata awalan adalah yang tersulit.
Ketika bicara mengenai mengejar cita-cita, saat-saat pertama adalah hal yang paling sulit! Ketika kamu sedang mengejar mimpi, kamu akan dihadapkan oleh beragam ujian yang menanti dan siap untuk memukul mundur kamu sampai kamu menyerah. Aku pernah mengalami itu, bahkan belum bisa bilang aku sudah berhasil mengatasinya. Di dorama ini, kamu akan melihat bagaimana cara Tokuzo untuk menaklukkan tantangannya.

Ketika ada secercah harapan, kamu harus siap dengan kekecewaan, diremehkan, bahkan kehilangan.
Nonton ini, entah kenapa bikin geregetan. Sedih-sedih-seneng-kecewa-sedih-gemes-seneng-hiks. Gitu deh. Nih ya, pas Tokuzo udah mulai mendapatkan hasil kerja kerasnya, ada aja emang halangan yang ada. Tapi Tokuzo harus tetap tegar, bahkan dia bisa menemukan cara untuk terus bertahan.

Nggak apa-apa. Hadapi semuanya, yang penting "Ketulusan Hati".
Yaa, lakukan semuanya dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang tulus. Karena temanya masakan, maka kalau Tokuzo tulus memasak, makanannya akan jadi sangat enak. Tapi pelajaran ini juga bisa diambil untuk segala bidang. Kalau kita mengerjakan dengan ikhlas dan tulus, akan terasa lebih baik dan menyenangkan, bukan?

Setelah berhasil mencapai mimpi, tetap masih harus berjuang!
Berhasil bukan berarti berhenti, lho. Walau sudah berhasil, tapi tantangan di depan makin garang. Jadi dengan skill yang sudah kamu dapat, kamu tetap harus belajar dan belajar, dan berusaha untuk mengalahkan tantangan selanjutnya!

Drama ini wajib banget kamu tonton, terutama buat yang lagi berusaha menggapai mimpi atau masih pengen mencari passion yang cocok. Selain itu, akting Takeru Sato disini bagus banget. Iyaaa, itu Takeru Sato yang jadi Kenshin Himura XD XD XD Ganteng dan kocak! Di dorama ini, dia sampai kursus masak dulu biar aktingnya lebih bagus sebagai chef!

Senin, 02 Januari 2017

Januari 02, 2017

[Review Film] The Accountant : Berjuang Melawan Ketidakmungkinan

Film ini adalah salah satu film yang ditunggu-tunggu banget sama Zaga buat nonton. Alasannya jelas, karena judulnya The Accountant. Zaga memang berprofesi sebagai akuntan, jadi menurut dia keren banget jika ada film action tentang accountant. Jadi deh, nemenin The Accountant nonton "The Accountant".

img source : Den of Geek

Dibintangi oleh Ben Affleck dan Anna Kendrick sebagai pemeran utamanya, kalau menurut IMDB film ini memiliki rating 7.8, nilai yang cukup tinggi bagi sebuah film. Dalam segi aktingnya, Ben Affleck cukup keren, tapi aku nggak bisa melepaskan bayang-bayang Batman dari dia. Sedangkan untuk Anna Kendrick, di film kali ini aku agak kecewa karena lagi-lagi dia memerankan blonde girl yang terlihat "have no clue at all".

Berjuang Melawan Ketidakmungkinan

Di awal aku menonton film ini, aku berekspektasi film ini hanya akan bercerita mengenai seorang akuntan yang terlibat dalam tindak kriminal dan dia harus lari-lari dikejar oleh orang jahat. Aku mengira film ini akan memiliki plot yang sama dengan RUSH yang dimainkan oleh Joseph Gordon Levitt. Namun ternyata, film ini menyuguhkan cerita yang lebih berarti daripada judulnya.

Ben Affleck berperan sebagai Christian Wolff, seorang akuntan yang spesialis dalam menyelesaikan kasus-kasus keuangan yang tidak lazim. Usut punya usut, ternyata Christian Wolff ini adalah seorang anak dengan High Functioning Autism. Disorder yang dia miliki adalah, dia harus menyelesaikan hal yang dia mulai, jika tidak dia akan emosi dan ngamuk. Aku cukup takjub dengan akting Ben Affleck sebagai anak autis di sini, karena terasa real.

Sebagai seorang autis, Wolff "dipaksa" ayahnya untuk belajar hidup normal. Ayahnya memang terlihat keras dalam mendidik kedua anaknya untuk bisa hidup mandiri serta membela dirinya, karena sang Ayah ingin, mereka bisa hidup walaupun dirinya telah tiada. Sehingga, kita akan melihat bagaiamana struggle kakak beradik ini untuk hidup normal dan dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya, bahkan belajar pencak silat di Indoesia lho!

Memahami anak berkebutuhan khusus.
Kalau ngomongin actionnya, oke lah ya, keren banget. Yang aku suka dan highlight dari film ini adalah pesan film untuk memahami anak berkebutuhan khusus. Bahwa mereka memiliki bakat-bakat terpendam yang bisa berguna jika diarahkan dengan bijak. Seperti Wolff, yang jadi akuntan hebat + jenius, atau Justine yang membantu Wolff dibelakang ternyata seorang jenius komputer. Aku besar dengan pengaruh bapak yang merupakan guru SLB, sehingga lumayan mengerti tentang anak-anak berkebutuhan khusus, yang sering dianggap orang sebagai idiot. Memberikan mereka pelajaran dan kecakapan yang sama dengan anak normal akan susah. Oleh karena itu, apa yang diajarkan haruslah sesuai dengan potensi dan keinginan anak tersebut. Biasanya anak berkebutuhan khusus akan diarahkan ke satu bidang yang akan mereka tekuni untuk menopang hidup mereka di masa mendatang.

Film ini worth sekali untuk ditonton, terlebih jika kamu ingin membuka pikiran tentang kehidupan seorang autis. :)

Minggu, 01 Januari 2017

Januari 01, 2017

Refleksi 2016 : Akhir ini, hanya awal dari masa depan

Sebenarnya, aku takut untuk menuliskan ini, karena, yah engga enak aja mengeluh di blog. Tapi aku ingin mencoba karena kata Erny, ini self-healing, so, lemme try ok?


Hai! Sudah lama nih tidak nulis blog, penuh sarang laba-laba gini. Pada akhirnya aku menulis lagi di 2017, tahun yang kutunggu karena tahun 2016 adalah tahun yang, yah, bisa dibilang sulit untukku. Bagi kalian yang mungkin penasaran, apasih resolusiku di tahun baru ini, perkenankan aku untuk menuliskan refleksi tahun 2016-ku, yang aku merasa dapat banyak pelajaran dari situ.

Tahun 2016, adalah tahun ketika aku memencet tombol reset.
Ya, reset. Tahu kan tombol di permainan console yang membuatmu bisa mengulang game dari awal lagi? Tahun 2016 ini aku merasakan hal yang sama. Banyak hal yang mengecewakan, banyak kesalahan yang aku lakukan. Tapi kesalahan demi kesalahan tersebut akhirnya membawaku ke satu kondisi yang membuatku merasa aku bukan manusia lagi. Aku masih hidup, masih bernafas, masih bisa tertawa dan bekerja, namun aku bukan manusia lagi. Lambat laun aku merasa kehilangan skill bersosialisasiku, karena setiap aku bangun, aku merasa amat takut membuka pintu kamar dan bertemu orang. Depresi? Ya, bisa dibilang begitu :)

Tenggelam pada rasa bersalah.
Satu kebiasaan buruk yang aku lakukan adalah, karena punya trauma masa kecil, aku adalah orang yang sangat hebat dalam menyalahkan diriku sendiri. And trust me, itu nggak enak banget. Ketika kamu menyalahkan dirimu sendiri dan terpuruk karenanya, sesungguhnya kamu telah bunuh diri secara perlahan-lahan. Tapi kondisi ini tidak bisa dengan mudah dilewatkan. Cerita ke orangpun, harus pilih-pilih karena jika kamu cerita pada orang yang salah, orang itu akan semakin membuatmu merasa bersalah. Pelan-pelan aku mulai melepaskan diri dari belenggu ini, dengan berbagi cerita ke orang yang menurutku bisa memberikan dukungan penuh, dengan ikut yoga dan meditasi.

Pada akhirnya aku sadar, aku hanya kurang mencintai diri sendiri.
Aku terlalu memikirkan kebahagian orang lain, sehingga terkadang lupa akan kebahagiaanku sendiri. Aku juga selalu ingin orang lain merasa senang, tanpa peduli sebenarnya aku nyaman atau tidak. Akhirnya aku jadi gampang baper jika menerima penolakan. Namun sekarang aku sadar, yang terpenting adalah kebahagiaanku dan orang-orang yang tulus mencintai aku. Maka aku mulai berjanji pada diriku sendiri, untuk lebih mendengarkan kata hati :)

Keluarga adalah nomor satu.
Karena bekerja di Jogja dan di kantor agensi iklan, aku seringkali menomorduakan urusan keluarga. Pada akhirnya, aku sakit berkali-kali dan yang mengurusku total adalah keluarga, bukan pihak kantor. Itu salah satu kesalahan yang aku buat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di masa yang akan datang. Apalagi akhir tahun ini, keluarga sedang butuh aku banget.

Prasangka buruk yang membunuh.
Nah, satu hal lagi yang aku terima sebagai pelajaran, yakni adanya prasangka buruk. Aku sempat down dan sangat-sangat tersesat karena kondisi tersebut. Prasangka buruk adalah hal yang memecah belah, menguras energi dan membunuh hal-hal baik yang akan terjadi. Menguras energi, sudah aku sebutkan ya? Ya! Menguras energi dan waktu. Karena kondisi tidak nyaman akan terjadi jika prasangka buruk itu muncul, dan untuk mengembalikannya ke semula, itu membutuhkan banyak energi dan waktu. 

So, atas refleksi-refleksi itu, aku ingin 2017 ini aku bisa :
1. Mencintai diriku sendiri. Aku tidak akan jatuh atas penolakan apapun jika aku mencintai diriku sendiri.
2. Selalu berpikir positif dan menjauhi prasangka buruk, baik dari diriku dan yang terpenting prasangka buruk dari orang lain.
3. Lebih banyak waktu untuk keluarga dan rencana kedepan keluarga.
4. Lebih banyak bersyukur untuk kebahagiaan.

Untuk poin nomor 4, aku akan mulai menulis #365haribersyukur sebagai terapi kebahagiaan. Semoga dengan ini, aku bisa memiliki alasan untuk bahagia setiap harinya dan lebih mudah mewujudkan mimpi-mimpi yang ada. :)

Kalau kamu?


About

authorHi There! Thanks for visiting my blog. You can call me bella.
Learn More →



Newsletter