Sabtu, 16 Desember 2017

Desember 16, 2017

[Review & Swatch] Emina Creamatte Fuzzy Wuzzy, Mauvelous, Frostbite & Flamingo

REVIEW EMINA CREAMATTE,

Lipcream Ringan untuk Remaja yang Juga Disukai Buibuk

Walaupun hura-hura emina creamatte ini udah lama (dan berarti aku telat banget ngereview sekarang), tapi lipcream ini memang worth to buy dan digunakan sebagai lipstick kesayangan yang dipakai sehari-hari. Jujur, aku baru saja beli lipcream ini setelah ibu-ibu di kantorku tanya rekomendasi lipstick matte yang bagus. Mereka nggak mau Wardah karena formulanya kering. Akhirnya, ting! Aku inget soal emina yang pernah kucoba dan merekomendasikan ke buibuk kantor.

Review & Swatches Emina Creamatte


Fuzzy Wuzzy | Mauvelous | Frostbite | Flaminggo

Packaging



Kalau dilihat sekilas dari packaging-nya, kalian pasti langsung bisa nebak target market emina. Yap, remaja. Dengan desain vector, Memphis art dan warna-warna terang. Aku sih suka banget sama desain packagingnya, jadi nggak aku buang hehe. Untuk lipcream, emina ini ukurannya kecil, isinya hanya 5.5gr. So, emang cocok banget buat remaja karena bentuknya imut. Dari keempat lipcream ini, aku paling suka sama desainnya frostbite dan flamingo!

Applicator

Menurutku, aplikator itu hal yang krusial untuk lipcream setelah warna. Pas awal-awal lipcream merebak (waktu itu Wardah yang booming), aku bingung cara pakenya karena nggak biasa pakai aplikator, apalagi hasil coveragenya langsung keliatan. Aku latihan pakai lipcream pakai Wardah Exclusive Matte Lipcream dan hasilnya nggak ada yang bener, belepotan semua. Sempet mengira kalau aku nggak bakat pakai lipcream hahaha. Tapi setelah ketemu lipcream LT Pro, aku langsung jadi jagoan pake lipcream karena aplikatornya lebih mudah dipake. So yeah, aplikator itu krusial dalam urusan lipcream menurutku.

Nah gimana dengan aplikatornya emina? Walaupun imut-imut dan pendek, sejauh ini aku merasa emina creamatte punya aplikator yang paling nyaman yang pernah aku pakai. Beratnya ditangan pas, jadi kalau memulaskan aplikator bisa rapi karena steady. Yang paling aku suka ada bulu aplikatornya lembut bangeeettt sissss… Bikin nggak belepotan. Top deh!

Swatch & Formula


Nah, ini yang ditunggu-tunggu, swatch! Sebelum melihat swatch bibir, kita lihat swatch tangan untuk perbedaan warnanya ya.

Karena aku milih belinya warna-warna yang lembut jadinya seperti ini. Nomor 2 dan 3 mirip-mirip. Fuzzywuzzy lebih soft dan pucat dibanding mauvelous yang lebih coral-pink. Frostbite lebih terlihat seperti Pink Barbie dan Flamingo lebih merah.

Ketika diaplikasikan di bibir, emina ini lembut banget. Setelah kering, hasilnya ringan (kalau kata orang jawa, ora nggedibel) dan cukup tahan lama. Nggak terlalu transfer ketika dipake minum di gelas dan kalau dipake makan nggak langsung ilang (bukan makan yang berminyak lho ya, kalau minyak banget ya bubar jalan). Tapi tetep ya, ini nggak stay lama, perlu dipulas setelah beberapa saat but no problemo buatku.

Yuk lihat hasilnya ketika diaplikasikan di bibir. Sebelumnya, jangan lupa pakai lipbalm dulu ya!

Notes : Sebagai pemilik wajah acne-prone, saat ini aku tidak menggunakan base-make up seperti BB Cream, CC Cream, Foundie atau Bedak. Lipstick ini aku coba dan pakai di wajahku yang bareface. So, excuse me if you see visible imperfection on my face. Sorry not sorry, I’m not gonna cover it up. Mungkin jika kamu cari lipcream yang oke walaupun dipakai ketika bareface, review ini bisa memberikan sedikit informasi.


Fuzzy Wuzzy



Ini warnanya soft banget di aku, kayak nggak pakai lipstick. Jika dipakai di bibirku, terlihat sedikit hint pink (sedikit banget tapi). Aku suka banget warna ini sebagai lipcream nudes-ku, apalagi aku suka banget pakai baju dengan nuansa soft pink. This color compliments my style so much! And yess, for my barefaced style!

Mauvelous

Awalnya di aku terlihat pucat, tapi masih tetep masuk sama warna kulitku yang tonenya warm. Namun setelah beberapa saat, akhirnya coralnya keluar. Kok coral ya, bukan mauve? Karena warna bibirku, beberapa liptick yang aku coba memang kadang ada yang jatuhnya ke coral/orange, ingat warna lipstick di bibir tiap-tiap orang bisa berbeda. Lipcream ini bikin wajahku terlihat lebih cerah. Warna ini cocok dipakai sehari-hari, buat nomakeup makeup atau buat bareface-an kayak aku. Sepertinya banyak ya yang suka dan cocok sama warna ini, jadi kalau mau beli lipcream emina yang warnanya aman, pilihlah Mauvelous!

Frostbite


Nah, ini salah satu warna favorit, aku nyebut shade begini itu pink Barbie. It goes really well di aku. Warna ini agak mirip dengan Wardah 03 Pink Me, tapi lebih blu-ish. Setelah nemu warna ini, sepertinya I’m ready to toss Wardah Pink Me away, karena formulasinya (dan aplikatornya) lebih nyaman bagiku. Frostbite cocok buat dipakai sehari-hari even for bareface mode. Dipake buat kondangan juga oke, karena lumayan gonjreng. Another YES Pink Lipstick for me!


Flamingo


Ow, ow, ow. Shade ini aku suka banget, pink fuchia yang terlihat mature gitu. Sengaja beli ini untuk kondangan. Coveragenya bagus dan langsung keliatan gitu warna pink-fuchianya. Cuma setelah beberapa saat di aku, hasilnya lebih ke merah daripada ke pink dan it’s so BOLD. Ya know, ketika aku pakai lipstick bold, biasanya dapat notes dari orang-orang sekitarku-dari komentar, diminta ganti lipstick sampai pernah dikasih lipstick baru! Kalau tidak diimbangi dengan makeup yang bener, lipstick ini kurang oke kalau dipake sehari-hari, apalagi kalau bareface. Ini hanya di aku aja ya. Maybe it works really well di kamu walaupun bareface.

Kesimpulan

Kalau mau cari lipcream yang enak dipakai sehari-hari, murah tapi formulanya oke, emina ini emang recommended banget. Buat yang remaja, maupun buibuk yang ternyata juga suka sama emina creamatte. Harganya juga nggak terlalu mahal, kemasannya kecil dan ringkas kalau dibawa kemana-mana. Tapi, tetep aja nggak longlast ya. Masih gampang ilang apalagi kalau makan makanan yang berminyak.

Kamu yang udah punya emina creamatte, suka yang warna apa? Share di komentar ya!

Rate


Minggu, 03 Desember 2017

Desember 03, 2017

Overdosis Kafein? Kok bisa?

Rasanya sesak napas, mual, pusing, jantung berdebar kencang kayak mau mati.



“Coffee is always a good idea.”

“Life begin after coffee”

Dan quote-quote coffee lainnya, pasti kalian lebih tahu banyak daripada aku. Sebenarnya aku suka coffee. Suka aja, nggak cinta mati. Cinta matiku sama cokelat hahaha. Dari kecil nggak terlalu suka sama kopi karena pahit, dan terus berlanjut sampai kuliah dan jadi first jobber. Walaupun nggak terlalu suka kopi, tapi aku pernah jadi coffee-addict di suatu masa. Ya! Tiap hari bisa minum kopi.

Aku mulai mengkonsumsi kopi lebih sering berkat jalan-jalan ke Klinik Kopi Jogja di akhir tahun 2014. Waktu itu, Klinik Kopi masih minjem tempat di Hutan Sanata Dharma Gejayan dan masih sepi karena belum ada AADC2 (such an hipster right?). Ke Klinik Kopi juga Cuma ngikut temen yang bilang, “nggak akan bilang nggak suka Kopi kalau udah ke Klinik Kopi. Nanti kamu bakalan ‘diobatin’ di sana.” Rasa takut dan was-was menghantuiku (ceilah), karena aku punya maag, kalau minum kopi pasti kambuh. Atau minimal nggak bisa tidur dan ngebayangin yang aneh-aneh. Entah, aku emang terlalu sensitive gitu sama Kopi.

Tapi kekhawatiranku berubah sama sekali setelah nyobain kopi tanpa gulanya Klinik Kopi, yang harganya sepuluh ribu doang waktu itu. Lambung nggak bermasalah, pulang-pulang langsung bisa tidur. Jumawa pun melanda, jebul ki aku isoh ngopi! Setelah dari Klinik Kopi, akupun jadi makin berani nyoba ngopi sana ngopi sini. Apalagi setelah ada demam Filkop yang bikin café menjamur di mana-mana. Makin rajin deh ngopi! Tiap kerja di luar, pesennya kopi. Bahkan sempat setiap hari minum kopi karena jadi seneng banget.

KERANJINGAN KOPI

Walaupun aku minum kopi dengan frekuensi yang sering, tapi rata-rata aku minum Café Latte, yang bukan pure coffee. Entah itu Latte, capucino atau mochacino. Suatu hari, pas lagi kumpul-kumpul di Ngopi Serius Solo sama temen, aku kepengen nyobain kopi yang lain. Pesenlah aku robusta yang Vietnam drip. Waktu itu aku pede-pede aja pesen kopi item, karena waktu di Klinik Kopi, aku minum kopi item nggak papa. Sehat bugar, malah seger. Setelah menghabiskan kopi dan obrolan, aku mulai merasa aneh. Dan di sinilah petaka itu muncul.

Setelah beberapa saat menghabiskan kopi item Vietnam drip itu, jantungku mulai deg-degan nggak karuan. Sambil pamit pulang, aku ambil motor sambil ngeliatin tanganku yang mulai gemetaran. Waktu itu aku nggak sadar sama sekali kalau aku gemetaran gara-gara kopi. Cepat-cepatlah aku pulang, buat istirahat di rumah. Sesampainya di rumah, setelah duduk dan istirahat sebentar, bukannya sembuh malah makin menjadi. Debaran jantungnya bertambah keras dan aku mulai mual-mual. Aku mencoba tidur, tapi nggak bisa tidur sama sekali. Lalu, aku mengingat-ingat tadi habis makan apa, siapa tahu aku keracunan makanan. Makananku nggak ada yang nggak biasa, malah makan di rumah. Yang paling aneh adalah kopi, jadi langsung saja aku cari di google soal “keracunan kopi”. Usut punya usut, aku bukan keracunan kopi tapi overdosis kafein.



OVERDOSIS KAFEIN
Overdosis kafein terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna kafein dalam jumlah banyak. Sebenarnya ini bukan kondisi yang bahaya dan gejala akan hilang dengan sendirinya ketika kafein telah tercerna secara sempurna oleh tubuh. Batas normal konsumsi kafein per hari adalah 400mg, atau setara dengan 4 cangkir kopi. Namun, beberapa orang mungkin lebih sensitive terhadap kafein sehingga batas konsumsi kafein mereka hanya separuh dari batasan normal. Sedangkan lama peredaran kafein di dalam darah biasanya adalah 1.5 jam sampai dengan 9.5 jam.

Gejala overdosis kafein antara lain :

1. Gemetaran. Tubuh akan terasa lemas dan gemetaran. Rasanya seperti kamu habis lari marathon terus istirahat, kakimu lemas dan gemetaran.

2. Jantung berdebar-debar dan durasinya lama. Pernah lari sprint kan? Setelah berhenti, pasti jantung akan berdebar-debar, namun akan hilang kalau udah istirahat sebentar. Nah ini debarannya itu konstan dan berlangsung berjam-jam. Dalam kasusku, debaran jantungnya parah dan rasanya kayak mau mati. Seakan-akan jantungnya akan berhenti tiba-tiba. Serius!

3. Dada terasa sesak. Ini adalah gejala lanjutan dari jantung yang berdebar di atas. Karena debaran jantung terus menerus, dada rasanya akan sesak. Mungkin akan terjadi kesulitan bernapas, padahal sebenarnya tidak. Saat overdosis kafein, aku bernapas melalui mulut karena dadaku rasanya sesak.

4. Mual & muntah. Rasanya mual banget dan sangat-sangat nggak enak. Bayangin aja, jantung deg-degan, sesak napas dan mual-mual sampai muntah. Alhasil badan pun lemas dan pengen tidur.

5. Insomnia. Ngantuk sih, TAPI NGGAK BISA TIDUR CUY! Thanks to caffeine, bikin melek dan terjaga sepanjang hari dan malam. Rasanya pengen istirahat karena lelah tapi nggak bisa istirahat.

6. Gelisah. Karena nggak bisa tidur, akhirnya gelisah dan mikir yang enggak-enggak. Saat itu aku secara berkala ngecek jantungku, karena takut tiba-tiba berhenti. Padahal ya kalau berhenti kan ga bisa mikir lagi karena udah wasalam -_-“

7. Migrain dan sakit kepala. PARAH. Parah banget sakit kepalanya. Duh…

Dan dalam kasusku, itu terjadi selama 24 jam! Padahal lama peredaran kafein di dalam darah itu maksimal sekitar 9.5 jam, sedangkan aku masih merasakan gejala itu hampir 24 jam. Saat itu aku nggak berani minum obat apapun, takut tambah parah. Setelah 24 jam, aku langsung minta tolong untuk diantar ke dokter. Dan perjalanan ke dokter itu sangat menyiksa karena gejala-gejala di atas belum menunjukkan adanya penurunan. Setelah susah payah menjelaskan apa yang aku rasakan, dokter memeriksa denyut nadi dan detak jantung. Dan ya, aku memang overdosis kafein. Setelah diberi obat, dalam waktu 6 jam aku baru membaik. Itupun masih bersisa lemes-lemesnya.

EFEK LANJUTAN DARI OVERDOSIS CAFEIN

Mungkin ini efek psikologis atau memang ada kaitannya, tapi setelah kejadian itu aku jadi super sensitive dengan kopi atau hal-hal yang tinggi kafein. Setelah overdosis kafein, aku benar-benar vakum minum kopi. Bahkan mencium baunya aja udah mual. Kira-kira setelah dua bulan aku baru berani minum kopi di Lantai Bumi Jogja dan itupun Hazelnut Latte. And you know what, baru setengah gelas, badanku udah gemetaran lagi dan aku harus menghentikan minum Hazelnut Latte itu. Segitunyaaaaaa….

Jadi memang sih, sebagian orang (termasuk aku) memang lebih sensitive dengan kafein. I know caffeine works better for most of my friends, bikin mereka lebih kreatif, lebih bisa kerja dan lebih bersemangat. Tapi buat yang sensitive sama kafein, zat itu bisa bikin :

1. Overdosis kafein, seperti yang aku ceritakan dengan gejala-gejala di atas.

2. Lambungnya sakit. Kalau punya penyakit lambung, jangan banyak-banyak deh minum kopi karena akan membuat sakit lambungmu tambah parah.

3. Menstrual cramps. Kafein memperparah sakit atau kram ketika haid. Aku sudah membuktikannya sendiri dengan minum kopi sehari sebelum dapet. Hasilnya : TEPAR NGGAK BISA BERDIRI PAS HARI PERTAMA!

4. Stressed out the body and messed up with blood sugar level, ngaruh ke kulit muka yang jadi gampang jerawatan.

5. Lead to hormonal imbalance that worsen acne. Nah, mungkin inilah yang terjadi di aku. Sebelum aku kena overdosis kafein, wajahku masih baik-baik saja. Setelah itu? Break out kemana-mana karena hormone ku sangat nggak stabil.

JADI NON-COFFEE DRINKER

Nah karena pengalaman mengerikan pernah overdosis kafein itu, aku benar-benar menghindari yang namanya KOPI! Apalagi kopi item yang kadar kafeinnya tinggi. Dan aku nggak pernah lagi pesan kopi di Ngopi Serius karena maybe, cara mereka menyajikan kopi nggak cocok di aku. Entahlah, katanya kopi itu cocok-cocokkan (kalau ada yang bisa kasih penjelasan, tinggalin komen di bawah ya!). Aku jadi pemilih banget soal tempat ngopi, yang pasti udah pernah aku coba dan nggak bikin overdosis kafein. Segitunya? Iya! Karena beberapa tempat ngopi, walaupun cuma minum lattenya, aku tetep ngerasain gejala overdosis. Kalau ada menu non-coffee, aku bakalan girang banget. Tapi kalau nggak ada non-coffee, aku pilih menu yang paling sedikit mengandung kafein. Paling soft-lah kafeinnya. Coklatpun, kalau kadar kafeinnya sedikit lebih tinggi, aku akan merasa mual (padahal cuma minum satu sloki kecil). So yeah, aku benar-benar kudu cari alternatif minuman tanpa atau mengandung sangat sedikit kafein. Jadi, aku lebih sering pesan coklat (with minimum caffeine) atau teh! Bahkan aku makin keranjingan minum green tea karena ternyata bagus juga buat kulit.

Gitu deh ya, sharing pengalaman nggak enak pernah overdosis kafein. Semoga bermanfaat dan mungkin menginspirasi kalian buat lebih hati-hati kalau minum kopi terutama kalau kalian sensitive sama kafein. Ada yang sensitive cafein juga kayak aku? Komen dong, biar bisa kuajakin tos! Hahaha.

Thanks sudah mampir!

About

authorHi There! Thanks for visiting my blog. You can call me bella.
Learn More →



Newsletter