Minggu, 24 Juli 2016

Juli 24, 2016

Belajar dari Ibu Pemain Pokémon

Bukan belajar huntingnya, bukan belajar cara levelingnya. Coba baca dulu deh :)

Hari ini sengaja menyempatkan diri buat hunting Pokémon. Selain mau tau environment Pokémon di Solo, juga sekalian refreshing, udah lama nggak jalan2 keluar tanpa bawa laptop dan bercengkrama dengan manusia seutuhnya. Akupun langsung menuju THR Sriwedari buat numpang Lure orang, biar gampang dapet Pokémonnya. Di Sriwedari ini memang banyak yang nongkrong buat Lure Pokémon, mulai dari mas2 yang memang umum main Pokémon hingga adek2 kelas SMP. Aku memilih duduk di belakang meriam karena paling dekat sama Pokestop. 

Pas lagi asik nge-Lure, ada adek-adek usia SMP datang sama ibunya dan duduk disampingku. Memang banyak sih anak-anak yang nge-Lure disitu yang diantar oleh orang tuanya. Tapi yang bikin ibu dan anak ini menarik perhatianku adalah, si ibu megang HP sendiri dan kulihat layarnya menampilkan Peta khas Pokémon. Nguping pembicaraan sebentar, ternyata ibu ini emang bener2 into main Pokémon.

 Aku langsung tergelitik buat menyapa. Niatnya gali insight (teuteup).



"Main Pokémon juga bu?" ibunya kaget ketika aku sapa dan menjawab ya sambil tertawa. Beliau mengaku baru saja install game hari ini  tapi sebelumnya sudah main pake HP anaknya. Kata beliau, main Pokemon ini seru dan lucu, bermanfaat buat mengisi waktu luang kalau lagi naik mobil keluar kota. Beliau juga bercerita sedikit tentang petualangan bareng anaknya yang cari Pokémon sampai kesasar di Klaten. Segitunya lho.

Obrolan kita mengalir nyaman mulai dari membahas game hingga kehidupan. Ibu ini hebat, aku salut dengan pemikirannya yang sangat open mind dan Maju. Walaupun banyak orang tua yang dicekoki tentang bahaya Pokémon di sekolah, ibu ini tidak serta merta ngikut isu tersebut, tapi dia membaca dan mempelajari sendiri apa itu Pokémon yang sangat diminati akhir-akhir ini. 

"Daripada mikir negatifnya, coba dilihat dampak positifnya deh ke anak-anak kita. Mereka jadi duduk akur main Pokemon begini, daripada tawuran dan godain cewek di jalan nggak jelas, ya kan mbak?"

Iyasih bu. *manggut-manggut*.

Dia tahu game ini berdampak kepada anaknya dan ingin bisa menemani anaknya main sekaligus mendampinginya. Jadi bukannya melarang, sang ibu malah bisa jadi pemandu dan penjaga anaknya tanpa bikin anaknya merasa dilarang atau dimarahi. (itusih, permasalahan Pokemon dan anaknya, generation gapnya lumayan banget).

Setelah ngomongin Pokémon, sang ibu iseng tanya tentang aku dan Zaga, langsung nebak kalau kita berdua pacaran. Aku sama zaga sih ketawa dan iya-iya aja sambil malu-malu. Tapi yang bikin aku takjub mengenai ibu ini adalah kata-kata selanjutnya.

"Jangan buru2 nikah ya, cari pengalaman dan kerja aja dulu." katanya. Si ibu tahu sih kita berdua masih muda, bahkan mengira aku masih kuliah, dia sedikit kaget ketika aku bilang sudah lulus dua tahun lalu dan sudah bekerja di Jogja. Masih kelihatan muda banget katanya. Si ibu kemudian melanjutkan. 

"Pesan saya mbak, mungkin bisa kamu sampaikan juga ke teman-temanmu juga, jangan buru2 menikah. Main-main aja dulu sambil persiapan. Soalnya kalau udah punya anak, tenaga kamu bakal keforsir buat ngurus anak, nggak bisa main-main lagi. Bener deh. Cukupin juga kebutuhan nantinya, apalagi ekonomi, jangan sampai divorce. Kebanyakan divorce itu karena masalah ekonomi dan ketimpangan yang terjadi di dalam keluarga."

"Keluarga itu layaknya perusahaan mbak. Dalam keluarga semuanya harus jadi satu kalau ingin berjalan dengan baik dan harmonis. Tiap individu punya kontribusi masing-masing, bahkan anak sekalipun. Jadi mendengar ide dari anak tentang apa yang disukai itu penting sekali."

Pantas aja si ibu ini kompak banget main Pokémon bareng anaknya. Benar-benar terlihat bahwa dia ini sangat mendukung anaknya untuk melakukan hal yang positif. Di saat orang tua lain melarang anaknya main tanpa alasan yang jelas, ibu ini mau memperbolehkan anaknya main dengan tanggung jawab. "Saya bilang ke anak saya ini, kalau main Pokémon karena itu bahaya, ya emang bahaya kalau mainnya nggak lihat sekitar. Kalau main Pokémon nya jalan tapi matanya di HP lalu kesandung, ya itu salah kamunya bukan Pokémon-nya." Sang ibu memberi larangan ke anak dengan rasional setelah dia main dan mengerti sendiri bagaimana konsep game Pokémon, serta main bersama anaknya untuk menambah kedekatan. Terbukti dengan kekompakan si Ibu ini dengan anaknya, yang hunting Pokemon sampai nyasar ke Klaten. 

"Saya sih percaya aja sama anak saya. Saya dorong mereka untuk mengembangkan hal positif dari apa yang dia sukai. Anak saya yang perempuan bahkan pengen kerja dulu sebelum kuliah. Dia lulus SMA dan sekarang sedang di Jakarta buat berkarir. Saya bolehkan, saya percaya dan dia punya planning, biarin gapapa, biar punya pengalaman." Hmm, terlihat bahwa sang ibu ini sangat mendukung apa yang anaknya lakukan namun tetap mengarahkan mereka ke hal-hal yang positif. Cara manajemen dan leadershipnya oke sekali, terbukti jadi Ibu itu wajib bisa manage dan nge-lead anggota keluarganya. Jadi Ibu harus pinter! *catet*

Dari Pokémon ini, aku jadi dapat pelajaran berharga tentang membangun keluarga. Bahwa menikah itu bukan main-main, bahwa menikah itu bukan berarti akan bahagia selama-lamanya layaknya Cinderella. Tapi menikah itu sebuah misi buat masa depan dan generasi mendatang. Karena begitu menjadi ibu atau orang tua, bukan serta merta kitalah yang terhebat dan lebih hebat dari anak kita. Kita masih harus belajar dan berkembang untuk membantu anak kita menghadapi tantangan jaman, kayak fenomena Pokemon ini nih. Aku pribadi sih, memang berencana untuk mempersiapkan "menikah" dengan matang, tapi awalnya aku merasa 'lah ngapain sih muluk-muluk amat buat nikah doang.' Setelah bertemu sang ibu, yang aku nyesel nggak minta kontaknya, aku jadi yakin bahwa menikah memang perlu persiapan yang banyak, jangan gengsi dan jangan malu untuk belajar dari yang berpengalaman. Menikah itu bukan asal sah!

Yak, jadi mulai sekarang aku akan semangat prepare buat menikah sebagai misi masa depan, Ga perlu nunggu nanti kan?

Senin, 18 Juli 2016

Juli 18, 2016

Jomblo dan Pokemon Go

Akhir-akhir ini, Game Pokemon Go memang sedang ramai diperbincangkan. Game Augmented Reality buatan Niantic dan The Pokemon Company ini sudah menjadi trend buat anak muda di Indonesia, khususnya gamers. Walaupun Pokemon Go belum di rilis secara resmi, namun user Indonesia tetap bisa memainkannya dengan mendownload apk Pokemon Go di apkmirror.



Aku sendiri sudah memainkan Pokemon Go mulai hari kedua lebaran, tepatnya tanggal 7 Juli 2016. Beberapa teman-temanku yang notabene "gamers" juga ikut memainkannya. Tapi, game ini baru nge-trend di kalangan cowok gamer aja, aku lihat belum banyak cewek yang memainkan Pokemon Go. Padahal, game ini bisa jadi sarana buat bertemu orang baru bahkan gebetan baru lho! Apalagi buat kamu, seorang cewek yang sampai sekarang masih jomblo. Aku sudah melakukan eksperimen singkat mengenai hubungan Pokemon Go dan mendapatkan gebetan baru, biar nggak jomblo lagi. Saat itu aku iseng-iseng datang ke Pokestop dan secara random berkenalan dengan mas-mas yang ada disitu dan berhasil kenalan! Dan berikut alasan mengapa kamu yang jomblo harus main Pokemon Go!

Alasan kenapa cewek jomblo harus main Pokemon Go

Gampang Menemukan Target Gebetan.

Jika kamu bermain Pokemon Go, kamu akan menemukan fitur Pokestop. Pokemon Trainer (sebutan untuk pemain Pokemon Go) biasanya mendatangi Pokestop ini untuk mendapatkan item-item free sebagai modal bermain. Pokestop ini juga bisa dipasangi sebuah fitur bernama Lure Module yang berfungsi untuk menarik pokemon liar datang ke tempat itu sehingga Pokemon Trainer lebih mudah menangkapnya. Sebuah Pokestop akan berwarna ungu dan memiliki kelopak bunga jika sedang dipasang Lure Module. Nah jika kamu menemukan Pokestop dengan Lure Module ini, langsung aja samperin spotnya. Siapa tahu kamu menemukan mas-mas unyu kayak Pikachu yang lagi main juga. Cara mengenalinya? Gampang! Ketika berada di Pokestop dengan Lure Module, coba deh amati, ada engga mas-mas yang pegang hape dan ngeliatin layar, lalu intip sedikit layarnya. Kalau gambarnya maps, itu sedikit banyak membuktikan bahwa dia lagi main Pokemon Go dan lagi hunting Pokemon.

Tampilan Lure Module dalam Game Pokemon Go. Lure Module adalah fitur untuk menarik pokemon Liar muncul di sekitar Pokestop sehingga mudah ditangkap.

Gampang membuka percakapan.

Game Pokemon Go, sudah terbukti (ke diriku sendiri) sebagai game yang gampang dipakai sebagai pembuka percakapan. Setelah menemukan sosok unyu, kamu bisa memulai percakapan dengan
"Lagi main Pokemon Go, ya mas?" 
"Main jadi Tim apa?"
"Barusan di sini ada Eevee, masnya juga dapet?"
Dan percakapan bisa mengalir tanpa adanya awkward moment. Kamupun bisa janjian hunting bareng atau tukeran nomor kalau-kalau pengen ketemuan lagi ;)

Nggak bisa main Pokemon Go? Gausah minder, justru itu alasan buat minta diajarin.

"Tapi kan aku nggak bisa main Pokemon Go."
Naaaah, justru ituuuu. Kamu bisa jadikan itu sebagai bahan perbincangan. Pokoknya main dululah. Nanti kalau sudah ketemu sama mas unyu tadi dan ngobrol, tambah durasi ngobrolmu dengan tanya-tanya soal game ini. Tenaaang, ini game baru, jadi masih wajar kalau banyak yang nggak tahu. Mereka pasti mau menjelaskan tata cara permainan dan kamu bisa minta tips dari mereka.

Masih jarang ada cewek yang main Pokemon Go.

Ada sihhh, pasti banyak cewek yang main Pokemon Go. Tapi tetep aja, awal-awal game seperti ini, masih lebih banyak cowok yang main Pokemon Go. Dan sudah jadi rahasia umum kalau Cewek yang main Game itu, tingkat keseksiannya meningkat. Cowok Gamers rata-rata suka kalau ada cewek yang main game, karena di anggap langka. Mereka akan lebih tertarik sama cewek yang tak disangka-sangka bisa main game. So, mumpung masih sedikit nih cewek yang main Pokemon Go, kamu bisa duluan deh main karena peluang masih terbuka lebaaaarrr ^_^
Tampilan avatar cewek di Pokemon Go. Aku Team Mystic, btw ^_^


Gimana, tertarik untuk mencoba main? 
Disclaimer : Ulasan ini dibuat agar bermain Pokemon Go menjadi lebih asyik. Tidak ada niat atau keinginan untuk menjadikan Pokemon Go sebagai media berbuat hal Negatif. Seperti Disclaimer pada awal game : Remember to be alert at all times. Stay aware of your surroundings. Selamat bermain Pokemon Go dengan safe, Gotta Catch 'em All!!

Jumat, 08 Juli 2016

Juli 08, 2016

Lebaran : Tentang Pulang dan Kesibukan

Yay! Lebaran telah tiba! Kalimat ini pasti sering kalian dengar di mana-mana. Bagi yang sedang merayakan Lebaran, pertama aku ucapkan Selamat Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin *terlepas dari kontroversi makna ucapan ini* *heran, kok suka banget hidup dalam kontroversi*

Lebaran aku, seperti biasa mudik ke rumah nenek yang lama-lama terasa asing. Dulu waktu TK pernah tinggal di sini, di Purworejo, sebelum akhirnya pindah ke Jogja dan ke Solo. Rumah nenek ini, warisan dari orang tua kakek, terletak di pinggir jalan raya sehingga nuansanya masih ramai, tidak terlalu masuk ke desa.

Yang aku perhatikan, makin kesini, Lebaran semakin sepi. Waktu aku masih kecil, Lebaran itu bisa jadi hal yang exciting banget karena bakal ketemu sodara-sodara yang banyak, main bareng dan ngobrol banyak hal.

Nenek memiliki 11 anak, dan ibuku adalah anak kelima. Cucunya sendiri ada 24, cicitnya 4 (kalau nggak salah itung). Sodara-sodara yang datang kesini terbagi menjadi dua generasi, generasi 90-an dan generasi 2000-an. Aku termasuk generasi 90-an yang punya banyak anggota, kami sering bermain bersama sedari kecil dan sekarang kebanyakan dari kami sudah bekerja (lalu jadi tim ditodong jodoh dan undangan) dan sebagian lagi hampir lulus kuliah (jadi tim ditanya "kapan lulus" dan cibiran kakak atau adeknya yang udah lulus).

Karena anak-anaknya sudah bekerja, maka waktu stay bersama keluarga lebih singkat, bahkan kemarin, Budhe Jawa Timur datang dan pulang dua hari sebelum Lebaran. Budhe & Pakdhe yang juga sudah pensiun akhirnya mengikuti anak-anak mereka yang libur kerjanya cuma sedikit, atau yang piket kerja di hari Raya. Alhasil, Lebaran kali ini rasanya lebih sepi. Dulu kalau Lebaran, tidur harus dempet-dempet di ruang tengah beralaskan karpet macem kayak sarden, rebutan selimut dan bantal. Sekarang bisa nyaman tidur sendiri-sendiri di kasur empuk yang tersedia di kamar.

Walaupun begitu, rasanya tetap bahagia. Di tengah kesibukan bekerja, dikejar-kejar revisi dan berbagai drama dunia yang ada, kembali ketika Hari Raya itu precious sekali. Setidaknya, kami masih bisa merasa jadi anak-anak dengan pulang ke rumah Nenek, bertemu budhe pakdhe dan nge-joke tentang masa lalu yang lucu. Bareng-bareng bongkar Album Foto yang bertumpuk-tumpuk disimpan Nenek di lemarinya, buat menertawakan kemiripan masing-masing dengan orang tuanya ketika muda. Lalu aktivitas ini membuat kita makin dekat dan makin erat.

Jika mengingat kedekatan erat keluarga, rasanya ancaman dan tantangan diluar sana tidak ada apa-apanya.

Selamat Hari Raya, Selamat berkumpul bersama keluarga :)



Senin, 04 Juli 2016

Juli 04, 2016

Cara Beli Pulsa melalui ATM dan e-cash Mandiri

Pernah nggak kalian di SMS iklan atau SMS berupa penipuan nggak jelas, seperti "Mama minta pulsa" dan "Selamat anda memenangkan hadiah 30jt dari...". Walaupun aku nggak percaya dan langsung tahu kalau itu penipuan, tapi SMS seperti itu kuanggap annoying. Mungkin aku adalah orang yang kelewat serious & curious, aku pengen banget tahu darimana orang-orang ini mendapatkan nomorku. Aku mencurigai konter penjual pulsa sebagai penyebar nomor karena mereka mencatat transaksi nomor pembelian di buku, dan buku itu bisa diartikan sebagai database pelanggan.
Akhirnya aku melakukan sedikit uji-coba. Dalam waktu tertentu, aku tidak membeli pulsa melalui konter pulsa di pinggir jalan, melainkan membeli melalui SMS Banking. Lalu, setelah vakum beli di konter pulsa selama kira-kira 2 bulan, aku iseng beli pulsa di konter pinggir jalan lagi.

Dan benar saja, kira-kira 3 hari setelah aku beli pulsa di konter, aku dapat beberapa SMS iklan dan penipuan. Hmmm..
Sejak saat itu aku menghindari beli pulsa melalui konter, kalau engga kepepet-kepepet banget. Aku lebih memilih beli pulsa melalui ATM atau e-banking, alasannya :
  1. Lebih aman, jarang dapat sms aneh-aneh lagi karena nomor kita tidak disebar tanpa ijin.
  2. Harganya sama dengan nominal pembelian. Kalau di konter kadang beli Rp 50.0000, bayarnya Rp 52.000. Di ATM, cukup bayar 50rb untuk pulsa 50rb.

Dengan begitu, aku bisa hidup damai setiap hari tanpa dimintain mama beli pulsa (hahah, lebay).

Tapi jadi kebiasaan kalau mau isi pulsa, pasti lewat ATM dan aku berhasil mempengaruhi sekitarku untuk mencobanya juga. Beberapa dari mereka malah jadi ketagihan, karena nggak perlu susah-susah ambil duit di ATM dan bayarin ke konter pulsa, tapi isi pulsanya bisa langsung pakai uang dari rekeningnya sendiri :D


Cara Beli Pulsa melalui ATM Mandiri :

  • Masukkan Kartu ATM dan masukkan PIN kamu
  • Pada menu utama, cari Bayar/Beli
  • Pilih menu Voucher/Paket Data
  • Pilih GSM/CDMA
  • Masukkan nomor HP yang ingin kamu isi pulsa. Tidak perlu menggunakan +62
  • Pilih nominal pengisian pulsa. Sejauh ini, walaupun ada nominal 25rb, tapi aku nggak bisa beli 25rb lewat ATM, jadi nominal terkecil yang bisa diisi adalah 50.000
  • Cek kembali nomor dan nominal sebelum klik OK
  • Tada!! Pulsa kamu telah terisi

Selain menggunakan ATM Mandiri, kalau kamu menggunakan Android, kamu bisa menginstall Mandiri e-Cash. Aplikasi ini mirip FlashCard atau toll-card, kamu tinggal isi uang di aplikasi ini dan kamu bisa melakukan transaksi beli pulsa atau belanja online. Aku sering pakai e-Cash buat simpan dana pulsa darurat. 

Cara Beli Pulsa melalui e-Cash :

  • Pastikan aplikasi e-cash sudah terinstal dan kamu sudah membuat ID
  • Isi e-Cash kamu dan login ke aplikasinya
  • Klik Bar menu di kanan atas, lalu klik Bayar & Beli
  • Klik Beli Pulsa
  • Masukkan Nomor Teleponmu
  • Pilih nominal pulsa (kalau disini aku bisa beli 25rb ^_^ )
  • Masukkan pin sebagai konfirmasi
  • Tunggu beberapa saat, pulsa akan langsung masuk.

Oh iya, isi pulsa melalui e-cash juga tidak ada tambahan biaya. Kamu membayar sesuai nominal, jadi lebih hemat dan nggak bayar parkir juga :D

Semoga tips ini bisa bermanfaat,
Sudah coba cara ini? Ceritakan pengalamanmu komentar ya! :D

About

authorHi There! Thanks for visiting my blog. You can call me bella.
Learn More →



Newsletter